Lifestyle

Ledakan Lanjut Usia, Bisnis Kreatif, Peluang Usaha Baru Atau Ladang Pengabdian ? 0

Ledakan Lanjut Usia, Bisnis Kreatif, Peluang Usaha Baru Atau Ladang Pengabdian ?

Posted by on Sep 14, 2018 in Lifestyle, News

Jika Anda pelaku bisnis kreatif yang jeli, kini peluang usaha baru untuk memenuhi kebutuhan lanjut usia sudah terbuka lebar. mengingat dari total populasi 7 miliar juta jiwa penduduk dunia, sebanyak 1 miliar diantaranya adalah penduduk berusia lanjut.

Ledakan Lanjut Usia Bisnis Kreatif & Peluang Usaha Baru 1

Bukan main-main lagi, ledakan lanjut usia di Indonesia kini sudah mencapai 20 juta jiwa lebih dan akan terus meningkat pesat pada tahun 2020 mendatang.

Peluang usaha baru dan ladang pengabdian

Bagi pelaku bisnis kreatif, ada banyak puluhan jenis peluang usaha baru terkait dengan kebutuhan lansia, tinggal dieksplorasi lebih dalam lagi, apa saja yang menjadi kebutuhan umum dan khusus mereka ? Dari mulai kebutuhan dasar primer, sekunder sampai kebutuhan khusus, misalnya seperti tour khusus bagi lansia, pelayanan perawatan lansia dsb.

Selanjutnya tinggal disesuaikan dengan demografi umum serta kondisi sosial ekonomi mereka, karena tentu saja tidak semua lansia memiliki kemampuan sosial ekonomi yang cukup. Sementara dari sisi sosial, organisasi non profit atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga bisa ikut berpartisipasi untuk menangani ledakan populasi lanjut usia yang sudah di depan mata.

Data dari berbagai sumber dibawah menunjukan, dari sisi demografi misalnya, jika Anda pengusaha kreatif, menurut data BPS thn 2015 diperkirakan 8,5% dari total populasi penduduk Indonesia atau sekitar 21,7 juta adalah lanjut usia yang tersebar diberbagai propinsi. Dari data tersebut, diperkirakan sekitar 45% lanjut usia yang tidak lagi produktif berada di dalam rumah tangga, dimana 40% diantaranya dengan status sosial ekonomi yang rendah – Sementara sisanya memiliki status ekonomi menengah dan atas.

Ledakan Lanjut Usia Bisnis Kreatif & Peluang Usaha Baru Atau Pengabdian ?

Ledakan lanjut usia ini masih akan terus berkembang dengan cepat, dimana populasi penduduk lansia yang berusia diatas 80 tahun diperkirakan akan berkembang paling cepat – Atau dengan kata lain, ledakan lanjut usia yang berusia diatas 80 tahun ini memerlukan kebutuhan khusus serta penanganan yang serius.

Data lain juga menunjukan sekitar 9% dari total populasi lanjut usia di indonesia tinggal sendiri dan sekitar 36% tinggal bersama 3 generasi di dalam 1 rumah tangga.

Data populasi lanjut usia terbanyak berada di DIY Yogyakarta, yang mencapai 12,48%, Jawa Timur 9,36%, Jawa Tengah 9,26%, Bali 8,77% dan Jawa Barat 7,09%.

Berdasarkan data dari dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan tahun 2013, tercatat beberapa penyakit yang terbanyak diidap oleh lanjut usia, antara lain: penyakit Hipertensi menduduki peringkat tertinggi sebanyak 57,6%, Arthritis 51,9%, Stroke 46,1%. Dari data tersebut masih dibagi lagi, sekitar 28% lansia menderita 2 penyakit, 14,6% menderita 3 penyakit, 6,2% mengidap 4 penyakit, 2,3% menderita 5 penyakit, dan 0,8% diantaranya masuk kategori lansia yang menderita 6 penyakit atau lebih.

Sementara hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2014 menunjukan, sekitar 25,05% lansia menderita sakit. Atau dengan kata dari 100 jiwa lansia, 25 orang diantaranya mengalami sakit dan perlu penanganan yang serius.    

 

Baca juga berita terkait :

Benarkah Orang Dewasa Sekarang Sudah Mulai Kecanduan Sosial Media ?

Bagi pengusaha kreatif, tentunya ini merupakan peluang usaha baru yang menjanjikan, sekaligus bisa ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial untuk lansia – Sementara bagi organisasi sosial kemasyarakatan yang sifatnya nirlaba atau non profit, data ledakan lanjut usia ini bisa juga digunakan sebagai ladang pengabdian pada masyarakat. Sementara bagi pemerintah sudah menjadi kewajiban pemerintah harus bisa menyediakan sarana, sumber daya serta infrastruktur yang memadai untuk menjamin kesejahteraan para lanjut usia di Indonesia.

 

Learn More
Benarkah Orang Dewasa Sekarang Sudah Mulai Kecanduan Sosial Media ? 0

Benarkah Orang Dewasa Sekarang Sudah Mulai Kecanduan Sosial Media ?

Posted by on Sep 12, 2018 in Lifestyle, News

Ingin tahu apa saja dampak posistif dan efek negatif bagi orang dewasa yang mulai kecanduan terhadap sosial media ? Simak terus beritanya di Internet marketing No 1  News Report dibawah ini.

Benarkah Orang Dewasa Sekarang Sudah Mulai Kecanduan Sosial Media

Belum lama berselang, badan charity Inggris, The Royal Society For Public Health (RSPH) menyerukan perlunya dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap efek kecanduan sosial media pada orang dewasa yang bisa mempengaruhi perilaku dan hubungan sosial mereka.

Dilansir oleh Sky News, kampanye yang dilakukan RSPH dengan tema, Get Involved with Scroll Free September, mereka berberharap bisa diikuti oleh puluhan ribu orang dewasa dari 56 negara yang berbeda untuk melakukan apa yang mereka sebut dengan istilah Digital Detox – Agar sudah saatnya orang dewasa segera keluar dari beberapa aplikasi sosial media yang sedang ngetrend saat ini, seperti Facebook, Instagram, Snapchat, Twitter dan Youtube.

Menurut Royal Society For Public Health, hasil penelitian pada tahun 2017 silam telah menunjukan banyak dampak negatif akibat kecanduan sosial media pada golongan usia anak dan remaja, antara lain, cyberbullying, sulit tidur, kecemasan, depresi dsb yang mempengaruhi perilaku mereka.

Seruan ini rupanya mendapatkan sambutan yang cukup hangat, tercatat selama bulan September berjalan ini dilaporkan sudah ribuan orang mengikuti program digital detox.

Sementara itu, hasil dari berbagai penelitian terbaru dalam beberapa tahun terakhir ini juga menunjukan bahwa:

1. Sebanyak sembilan puluh satu persen remaja dan dewasa yang berusia 16 thn s/d 24 tahun menggunakan sosial media.

2. Diantara mereka setidaknya ada sekitar 5% diantaranya yang sudah kecanduan sosial media.

3. Bagi mereka yang menghabiskan waktu setidaknya lebih dari 2 jam setiap hari melakukan aktivitas di sosial media, dilaporkan cenderung mengalami kesehatan mental yang buruk.

Meski demikian, kepala eksekutif RSPH, Shirley Cramer menyatakan, masih diperlukan lebih banyak lagi penelitian yang mendalam terhadap dampak buruk kecanduan sosial media bagi orang dewasa.

Menurut Shirley, salah satu pertanyaan yang mendasar adalah, apa peran kita di sosial media, ketika kita memiliki anak-anak dan remaja. “Saya kira kita tidak lagi berpikir sebagai orang tua. Bagaimana peran kita ? Apakah ketika sedang makan bersama keluarga-pun kita juga masih sibuk bermain sosial media, atau tweeting ? Apa efeknya bagi anak-anak kita ?” Shirley memaparkan pandangannya.

Menurutnya, masih perlu lebih banyak lagi penelitian yang lebih mendalam diseputar peran orang dewasa terhadap kecanduan sosial media – Sementara ini kita sudah melihat bukti nyata dan dampak negatif potensi kerusakan akibat kecanduan sosial media terhadap anak-anak, remaja dan orang muda.

Senada dengan itu psikolog Noel Bell juga mengatakan bahwa generasi tua/orang dewasa juga tidak imun dari kemungkinan kecanduan terhadap sosial media.

“Kami tengah mencari gejala kecanduan, peningkatan obsesi serta potensi terhadap kehilangan kontrol dan konsekuensi buruk pada keseharian kehidupan sosial pengguna.” ujarnya.

Kampanye gratis RSPH ini mulai dilakukan untuk mengatasi tekanan dan dampak sosial global dari banyaknya perusahaan teknologi besar sosial media seperti Facebook atau Instagram.

Menanggapi hal itu, bulan lalu Facebook telah mengenalkan beberapa update terbaru fitur baru mereka untuk melakukan pembatas waktu beraktivitas di dalam aplikasi. Dalam laman blog post Facebook, mereka menulis, “Harapan kami pembaruan pada beberapa tools kami bisa memberikan kontrol bagi pengguna di platform kami dan juga ikut berperan mendorong percakapan antara orang tua dan remaja tentang kebiasaan online yang tepat bagi mereka.

So, jika mungkin Anda termasuk golongan orang dewasa yang sudah mulai menunjukan gejala kecanduan sosial media, ada baiknya juga untuk mengikuti digital detox, menghentikan semua aktivitas di sosial media, dan mulailah melakukan komunikasi intensif dengan keluarga dan anak-anak dirumah.

Learn More